Yogi dan Keutamaannya
Oleh: vedanta pati dasa
tapasvibhy dhiko yogi
jnanibhyo pi mato dhikah
karmibhyas cadhiko yogi
tasmad yogi bhavarjuna
Bhg.6.46
Seorang yogi lebih besar dari pertapa dan bahkan ia lebih mulia daripada sarjana, lebih utama dari yang melakukan yadnya, karenanya jadilah yogi wahai Arjuna.
Tidak perlu diragukan lagi Arjuna murid Drona adalah ksatria utama yang gagah perkasa menguasai ilmu militer dan strategi perang dengan sangat baik, beliau seorang jendral yang dihormati dan disegani tidak saja oleh kawan tetapi juga oleh lawan-lawannya bahkan oleh para dewa sekalipun, walaupun demikian Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krsna tetap saja menyarankan bahkan cendrung mengarahkan Arjuna untuk menjadi seorang yogi.
Kenapa demikian?, Ini tentu tidak terlepas dari kualifikasi dimana seorang yogi itu mempunyai kualifikasi lebih dari manusia biasa. Yogi adalah yang menguasai ilmu kebatinan atau rohaniawan yang sudah melampaui hal-hal duniawi. Hanya seorang yogilah yang mampu mencapai planit rohani.
Dari milyaran penganut hindu atau weda di seluruh dunia ini belum tentu 10 prosennya mampu mencapai kualifikasi yogi, ini artinya teramat sangat berat untuk dicapai. Lalu apakah profesi-profesi yang lain seperti ksatria, vaisya dan sudra apalagi candala tidak bisa mendapatkan tiket ke planit rohani Vaikuntaloka bahkan Goloka Vrindavana? Ya ini tentu bukanlah kapasitas kita untuk menjawabnya. Tetapi yang jelas Krsna sendiri dengan tegas menyarankan agar Arjuna menjadi seorang yogi.
Dan yang paling penting bagi kita ada upaya yang sungguh-sungguh untuk dapat melaksanakan tahapan-tahapan hidup manusia hindu sesuai dengan prinsip-prinsip kitab sucinya dalam hal ini ajaran catur asrama, disini tentu dibutuhkan keseriusan, kearifan dan kebijaksanaan.
Boleh-boleh saja untuk sementara ini kita sebagai brahmacari, lalu sebagai grhasta, lalu wana prasta dalam contact kekinian tentunya dan selanjutnya sanyasi walaupun untuk yang terakhir ini hampir tidak mungkin bisa kita lakukan pada kaliyuga ini.
Hidup ini memang pilihan dan menjadi seorang ksatria, vaisya, dan sudra tentu dibutuhkan untuk kepentingan bangsa dan Negara ini demi kesejahteraan dan ketertiban masyarakat luas, sama halnya dengan keberadaan pandawa yang berwarna ksatria dalam menegakkan prinsip-prinsip dharma di Negara Hastina pada akhir dwaparayuga, namun kesempatan dan waktu untuk menunaikan kewajiban itu tentu ada batasannya demikian juga denga warna-warna yang lain, nah setelah kesempatan itu berakhir atau kita akhiri maka disanalah semestinya manusia mengambil kesempatan untuk mengawali kehidupannya dengan aktifitas bhakti dalam mempersiapkan diri menuju kehidupan rohani.
Intinya kita harus mampu dan mau memanfaatkan momen itu dengan berani.
Ada contoh menarik ketika raja Ayodhya yang bijaksana yang dihormati di ketiga dunia yaitu Prabu Dasaratha tengah mempersiapkan putra mahkota yang kelak akan mengganti kedudukan beliau sebagai raja negeri Ayodhya dan pilihannya jatuh kepada putra sulungnya yaitu Rama dan semua petinggi-petinggi kerajaan yang ada di balairum Hastina dimana sidang itu dilaksanakan termasuk penasihat kerajaan Rsi Wasista setuju dengan usulan tersebut, dan dalam waktu yang bersamaan juga Rama sang putra kesayangan tidak bersedia mengganti kedudukan ayahandanya dan ini semata-mata karena rasa hormat yang tinggi Beliau kepada ayahandanya dan merasa diri belum pantas untuk mengganti ayahandanya sebagai raja negeri sebesar Ayodhya, namun Rama berjanji demi Negara dan ayahandanya Beliau tetap dengan setia berada dibelakang ayahandanya membantu tugas-tugas yang dibebankan oleh ayahandanya.
Tetapi Prabu Dasaratha teguh dengan pendiriannya untuk menyerahkan tahta kerajaan kepada putra tercitanya Rama lalu dengan cerdas bijak dan berwibawa beliau berkata; Rama anakku jangan aku kau ikat dengan cinta dan kasih sayangmu, jangan aku kau jerat dengan kemewahan kerajaan ini, biarkan aku pergi dan melepaskan semua ikatan kerajaan ini untuk mempersiapkan diri menuju dunia rohani yang kekal karena ini memang sudah waktunya, dan aku yakin kau pasti mampu menjadi raja yang arif dan bijaksana yang dihormati dan disegani diketiga dunia mampu mensejahterakan semua rakyat di seantero negeri. Jika engkau tetap tidak bersedia maka itu sama artinya dengan menghambat perjalanan ayahmu menuju kebahagiaan yang kekal di dunia rohani sebagai tujuan hidup yang tertinggi.
Demikian juga hal yang terjadi pada negeri Hastina setelah selesai baratayudha Hastina diperintah oleh seorang raja yang maha bijaksana yaitu maharaj Yudistira dimana pamannya sendiri yaitu prabu Drstarata masih tetap diizinkan tinggal di istana atas kemurahan hati Yudistira tentunya, disana beliau menikmati fasilitas dan kemewahan kerajaan sehingga terlena dan lupa untuk mempersiapkan diri menuju alam rohani karena terlanjur larut dalam kemewahan duniawi. Untunglah adiknya yang bijaksana Widura cepat mengingatkan Drstarata agar segera meninggalkan semua kemewahan ini untuk pergi ke hutan mempersiapkan diri menuju kehidupan rohani sebagai tujuan hidup terakhir yang bebas dari kemewahan material.
Walaupun pada awalnya Drstarata berat sekali menerima saran itu disamping juga karena beliau sudah tua dan matanya buta tetapi karena Widura memaksanya tentu dengan dasar-dasar kitab suci weda akhirnya Drstarata setuju dengan gagasan adiknya itu dan pergi ke hutan pada malam hari tanpa sepengetahuan Yudistira maharaj dan anggota keluarga kerajaan lainnya. Turut serta dalam perjalanan beliau disamping Widura juga ibu Gandari dan ibu Kunti meninggalkan kemewahan kerajaan menuju hutan kehidupan rohani.
Nah pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah-kisah diatas, tentu pengetahuan rohani jangan terlalu lama kita hanyut dalam kebahagiaan material yang bersifat sementara dan semu ini, jika sudah waktunya tiba maka serahkan semua itu kepada orang lain dan masuklah ke dunia rohani tentu tidak harus ke hutan tetapi melepaskan semua ikatan-ikatan maya itulah yang harus kita persiapkan dari kehidupan sekarang ini apapun profesi kita dan dimanapun kita berada.
Jangan kita sampai mati terjerat dan tidak berkutik oleh kekuatan maya itu, jika kita seorang grhasta silakan membangun keluarga dan bekerja sesuai dengan keahlian masing-masing untuk mendukung ekonomi keluarga tentu dengan prinsip-prinsip dharma agar bisa berjalan dengan baik lalu antarkanlah atau kawallah putra-putri kita sampai memasuki grhasta ( masa berumah tangga), selebihnya perlahan-lahan melepaskan ikatan dari hiruk-pikuknya kehidupan mencari kekayaan material. Seperti halnya Arjuna setelah pensiun dari dunia militer lalu bergegas menuju dunia rohani mengikuti perintah guru sejatinya Krsna.
Jangan sampai seperti mereka yang sudah banyak cucunya dan sudah tua renta masih sibuk dengan urusan bisnis………. aduh kasihan sekali mereka
Om namo bhagavate vasu deva ya
Kamis, 21 Oktober 2010
Sabtu, 25 September 2010
Keutamaan Srimad Bhagavad Gita
Keutamaan Srimad Bhagavad Gita
Oleh: vedanta pati dasa
Sri bhagavan uvaca:
param bhuyah pravaksyami
jnananam jnanam uttamam
yaj jnatva munayah sarve
param siddhim ito gatah
Bhg. I4.1
Sri Bhagavan bersabda:
Saya akan jelaskan lagi tentang ilmu pengetahuan utama yang terbaik dari semua ilmu pengetahuan, dimana dengan mengetahuinya para muni semua bebas dari dunia ini mencapai kesempurnaan tertinggi.
Disini Krsna menjelaskan lagi kepada Arjuna putra Kunti tentang keutamaan dari Srimad Bhagavad Gita, dimana Beliau mengatakan yang terbaik diantara semua ilmu pengetahuan.
Jika Tuhan sendiri mengatakan ini yang terbaik maka sudah barang tentu baik saja tidaklah cukup.
Krsna juga menjelaskan bahwa para muni atau resi-resi agung setelah mengetahui pengetahuan rahasia ini mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi. Kesempurnaan tertinggi disini tentunya mencapai Krsnaloka yaitu kerajaan Tuhan yang kekal penuh kebahagiaan rohani dan bebas dari segala penderitaan material, namun tidaklah menunggal dengan Tuhan tetapi tetap sebagai abdi dan pelayan Tuhan disana, itulah tujuan hidup yang tertinggi.
Tetapi pada zaman kali nampaknya prilaku manusia sudah mulai bergeser dari kedudukan dasarnya dan sudah menjadi hal yang biasa jika pada sebagian besar manusia masa kini lebih mengejar kekayaan material ketimbang pendakian rohani, maksudnya menumpuk kekayaan materi hanya untuk kepuasan indriya semata dan tidak menggunakan kekayaannya itu untuk menunjang aktifitas rohaninya bahkan terkesan alergi jika berbicara rohani.
Prilaku seperti ini tentu akan menggiring sang roh menuju penderitaan yang berkepanjangan setelah dia meninggalkan badan kasarnya, bahkan dilahirkan kembali kedunia material yang penuh dengan penderitaan ini dimana siklus lahir penyakit usia tua dan kematian terus menerus terjadi dan selama yang bersangkutan diliputi oleh kemelekatan duniawi maka selama itupula penderitaan itu akan terjadi bahkan bisa bertambah merosot.
Untuk itulah mari kita saling mencerahi dan saling menyemangati dan saling mengingatkan satu sama lain, untuk menumbuh kembangkann kesadaran diri yang baik untuk tunduk hati mendekat ke wilayah-wilayah filsafat wedanta melalui sang guru kerohanian yang bonafide tentunya agar hidup yang singkat di dunia material ini benar-benar dapat kita manfaatkan untuk mempersiapkan diri (sang roh) menuju planit rohani yang kekal.
Lalu pertanyaanya kenapa harus kepada seorang guru kerohanian? ya karena tanpa seorang guru kerohanian sangatlah sulit memahami pengetahuan rahasia itu.
Kita sekolah saja untuk mempelajari ilmu-ilmu material perlu seorang guru atau dosen apalagi itu pelajaran rohani, dan pelajaran rohani itu sulit dimengerti jika tidak diajarkan oleh seorang guru kerohanian. Krsna sendiri bersabda hendaknya engkau pelajari ilmu pengetahuan ini melalui garis-garis perguruan guru-guru rohani dan bertanyalah dengan tunduk hati kepada beliau karena beliau sudah melihat kebenaran itu, ini artinya tanpa melalui seorang guru kerohanian sangatlah sulit, kita jadinya menapsirkan sendiri dan itu adalah sebuah kesalahan atau aparad.
Sesuai sabda Tuhan diatas sudah semestinya tidak ada keraguan sedikitpun dari kita dan siapapun untuk mendalami filsafat Bhagavad Gita sebagai tuntunan dan acuan dalam menghadapi hidup dan problema kehidupan pada zaman kemerosotan ini karena kesimpulan-kesimpulan weda semua ada disana.
Namun harus diakui bahwa dalam mendalami dan menyampaikan ajaran Bhagavad Gita tentu ada tantangannya dan tantangan itu sesungguhnya juga berasal dari Krsna itu sendiri.
Seperti halnya masih terjadi pemahaman yang sedikit berbeda diantara kita sesama penganut weda terutama menyangkut Krsna. Siapa itu Krsna, siapa itu dewa seperti Brahma, Wisnu, Shiva dan lain-lain, lalu siapa itu leluhur dan seterusnya. Walaupun semua orang setuju bahwa Bhagavad Gita adalah pancamo weda, tetapi banyak juga yang merasa tidak begitu nyaman mengakui bahwa Krsna yang bersabda disana adalah Kepribadian Tuhan.
Vyasadeva sendiri sang penyusun weda menjelaskan sebutan Beliau dengan Sri Bhagavan, seperti sloka diawal yaitu Sri Bhagavan uvaca yang secara luas artinya adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda, adapun maksud dari Sri Bhagavan itu tiada lain adalah Sri Krsna itu sendiri.
Kalau boleh berandai-andai jika suatu saat persepsi kita sudah bisa sama maka pada saat itulah barangkali proses penyebaran ajaran Bhagavad Gita yang merupakan sarana menuju kejayaan itu akan dapat berjalan dengan baik. Dan jika itu yang terjadi pasti akan membawa dampak ataupun akan terjadi perubahan yang signifikan tentang prilaku hidup umat manusia.
Untuk itulah kewajiban dari para penyembah-penyembah murni atau orang-orang yang sudah melihat tentang kebenaran itu untuk terus-menerus tanpa henti melaksanakan misi Tuhan Sri Krsna untuk menyelamatkan roh-roh yang jatuh seperti kita melalui pendekatan cinta kasih kepada semua mahluk. Hal ini sudah dilakukan sejak lima ratus tahun yang lalu oleh Sri Caitanya Maha Prabu dan kemudian diteruskan oleh murid-murid Beliau ke seluruh dunia sampai sekarang dan seterusnya.
Nah kembali lagi kita ke sloka di awal jika Tuhan saja sudah menyatakan bahwa ajaran bhagavad gita adalah yang utama dan yang terbaik diantara ajaran yang lainya seperti pernyataan seorang acarya agung yang pernah lahir di bumi ini dan beliau adalah seorang shivasidanta bahkan beliau adalah Shiva itu sendiri yang turun kedunia yaitu Adi Sankaracarya dimana beliau mengatakan seharusnya hanya ada satu kitab suci yaitu bhagavad gita dan hanya ada satu Tuhan yaitu Sri Krsna, maka harapan kita semua sebagai masyarakat adalah tentu akan terus-menerus mengupayakan untuk memasyarakatkan ajaran maha sempurna bhagavad gita itu kepada semuanya dengan harapan semoga kita semuanya mampu mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi yaitu mencapai kesempurnaan hidup di kerajaan Tuhan.
Om namo bhagavate vasudeva ya
Oleh: vedanta pati dasa
Sri bhagavan uvaca:
param bhuyah pravaksyami
jnananam jnanam uttamam
yaj jnatva munayah sarve
param siddhim ito gatah
Bhg. I4.1
Sri Bhagavan bersabda:
Saya akan jelaskan lagi tentang ilmu pengetahuan utama yang terbaik dari semua ilmu pengetahuan, dimana dengan mengetahuinya para muni semua bebas dari dunia ini mencapai kesempurnaan tertinggi.
Disini Krsna menjelaskan lagi kepada Arjuna putra Kunti tentang keutamaan dari Srimad Bhagavad Gita, dimana Beliau mengatakan yang terbaik diantara semua ilmu pengetahuan.
Jika Tuhan sendiri mengatakan ini yang terbaik maka sudah barang tentu baik saja tidaklah cukup.
Krsna juga menjelaskan bahwa para muni atau resi-resi agung setelah mengetahui pengetahuan rahasia ini mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi. Kesempurnaan tertinggi disini tentunya mencapai Krsnaloka yaitu kerajaan Tuhan yang kekal penuh kebahagiaan rohani dan bebas dari segala penderitaan material, namun tidaklah menunggal dengan Tuhan tetapi tetap sebagai abdi dan pelayan Tuhan disana, itulah tujuan hidup yang tertinggi.
Tetapi pada zaman kali nampaknya prilaku manusia sudah mulai bergeser dari kedudukan dasarnya dan sudah menjadi hal yang biasa jika pada sebagian besar manusia masa kini lebih mengejar kekayaan material ketimbang pendakian rohani, maksudnya menumpuk kekayaan materi hanya untuk kepuasan indriya semata dan tidak menggunakan kekayaannya itu untuk menunjang aktifitas rohaninya bahkan terkesan alergi jika berbicara rohani.
Prilaku seperti ini tentu akan menggiring sang roh menuju penderitaan yang berkepanjangan setelah dia meninggalkan badan kasarnya, bahkan dilahirkan kembali kedunia material yang penuh dengan penderitaan ini dimana siklus lahir penyakit usia tua dan kematian terus menerus terjadi dan selama yang bersangkutan diliputi oleh kemelekatan duniawi maka selama itupula penderitaan itu akan terjadi bahkan bisa bertambah merosot.
Untuk itulah mari kita saling mencerahi dan saling menyemangati dan saling mengingatkan satu sama lain, untuk menumbuh kembangkann kesadaran diri yang baik untuk tunduk hati mendekat ke wilayah-wilayah filsafat wedanta melalui sang guru kerohanian yang bonafide tentunya agar hidup yang singkat di dunia material ini benar-benar dapat kita manfaatkan untuk mempersiapkan diri (sang roh) menuju planit rohani yang kekal.
Lalu pertanyaanya kenapa harus kepada seorang guru kerohanian? ya karena tanpa seorang guru kerohanian sangatlah sulit memahami pengetahuan rahasia itu.
Kita sekolah saja untuk mempelajari ilmu-ilmu material perlu seorang guru atau dosen apalagi itu pelajaran rohani, dan pelajaran rohani itu sulit dimengerti jika tidak diajarkan oleh seorang guru kerohanian. Krsna sendiri bersabda hendaknya engkau pelajari ilmu pengetahuan ini melalui garis-garis perguruan guru-guru rohani dan bertanyalah dengan tunduk hati kepada beliau karena beliau sudah melihat kebenaran itu, ini artinya tanpa melalui seorang guru kerohanian sangatlah sulit, kita jadinya menapsirkan sendiri dan itu adalah sebuah kesalahan atau aparad.
Sesuai sabda Tuhan diatas sudah semestinya tidak ada keraguan sedikitpun dari kita dan siapapun untuk mendalami filsafat Bhagavad Gita sebagai tuntunan dan acuan dalam menghadapi hidup dan problema kehidupan pada zaman kemerosotan ini karena kesimpulan-kesimpulan weda semua ada disana.
Namun harus diakui bahwa dalam mendalami dan menyampaikan ajaran Bhagavad Gita tentu ada tantangannya dan tantangan itu sesungguhnya juga berasal dari Krsna itu sendiri.
Seperti halnya masih terjadi pemahaman yang sedikit berbeda diantara kita sesama penganut weda terutama menyangkut Krsna. Siapa itu Krsna, siapa itu dewa seperti Brahma, Wisnu, Shiva dan lain-lain, lalu siapa itu leluhur dan seterusnya. Walaupun semua orang setuju bahwa Bhagavad Gita adalah pancamo weda, tetapi banyak juga yang merasa tidak begitu nyaman mengakui bahwa Krsna yang bersabda disana adalah Kepribadian Tuhan.
Vyasadeva sendiri sang penyusun weda menjelaskan sebutan Beliau dengan Sri Bhagavan, seperti sloka diawal yaitu Sri Bhagavan uvaca yang secara luas artinya adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda, adapun maksud dari Sri Bhagavan itu tiada lain adalah Sri Krsna itu sendiri.
Kalau boleh berandai-andai jika suatu saat persepsi kita sudah bisa sama maka pada saat itulah barangkali proses penyebaran ajaran Bhagavad Gita yang merupakan sarana menuju kejayaan itu akan dapat berjalan dengan baik. Dan jika itu yang terjadi pasti akan membawa dampak ataupun akan terjadi perubahan yang signifikan tentang prilaku hidup umat manusia.
Untuk itulah kewajiban dari para penyembah-penyembah murni atau orang-orang yang sudah melihat tentang kebenaran itu untuk terus-menerus tanpa henti melaksanakan misi Tuhan Sri Krsna untuk menyelamatkan roh-roh yang jatuh seperti kita melalui pendekatan cinta kasih kepada semua mahluk. Hal ini sudah dilakukan sejak lima ratus tahun yang lalu oleh Sri Caitanya Maha Prabu dan kemudian diteruskan oleh murid-murid Beliau ke seluruh dunia sampai sekarang dan seterusnya.
Nah kembali lagi kita ke sloka di awal jika Tuhan saja sudah menyatakan bahwa ajaran bhagavad gita adalah yang utama dan yang terbaik diantara ajaran yang lainya seperti pernyataan seorang acarya agung yang pernah lahir di bumi ini dan beliau adalah seorang shivasidanta bahkan beliau adalah Shiva itu sendiri yang turun kedunia yaitu Adi Sankaracarya dimana beliau mengatakan seharusnya hanya ada satu kitab suci yaitu bhagavad gita dan hanya ada satu Tuhan yaitu Sri Krsna, maka harapan kita semua sebagai masyarakat adalah tentu akan terus-menerus mengupayakan untuk memasyarakatkan ajaran maha sempurna bhagavad gita itu kepada semuanya dengan harapan semoga kita semuanya mampu mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi yaitu mencapai kesempurnaan hidup di kerajaan Tuhan.
Om namo bhagavate vasudeva ya
Selasa, 14 September 2010
Kewajiban diatas Perasaan
atha cet tvam imam dharmyam
sangramam na karisyasi,
tatah sva-dharmam kirtim ca
hitva papam avapsyasi
Bhg.2.33
Akhirnya bila engkau tidak berperang sebagaimana kewajiban dengan meninggalkan kewajiban dan kehormatan, maka penderitaanlah yang engkau peroleh.
Demikian peringatan yang disabdakan Krsna kepada Arjuna dalam medan perang kurukstra, sehubungan dengan keraguan dan keengganan Arjuna untuk berperang melawan musuh-musuhnya yang notabenen adalah gurunya, kakeknya, sepupunya, kerabatnya dan sebagainya.
Sabda Krsna diatas juga mengingatkan kepada kita semua bahwa jika kewajiban ditinggalkan dengan alasan apapun maka penderitaan sudahlah pasti menguasai kita, oleh karena itu lakukanlah apapun yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab kita tanpa keraguan.
Dan kewajiban apapun yang dilakukan maka lakukanlah semata-mata demi kewajiban itu sendiri.
Berperanglah demi perang itu sendiri, bekerjalah demi kerja itu sendiri tanpa motif yang lain. Tentu semuanya harus dilandasi oleh pengabdian dan semangat bhakti yang baik kepada Tuhan yang Maha Esa. Jika demikian adanya maka semuanya menjadi baik, menjadi rohani dan yang namanya rohani sudah pasti steril dari napsu material, angkara murka, loba, tamak, serakah, sewenang-wenang dan lain-lain sifat-sifat asurik, karena apa yang disebutkan terakhir itulah penyebab utama dari kehancuran dan kemerosotan kehidupan dunia saat ini.
Dewasa ini beberapa teman merasakan semangat dan daya juang generasi muda hindu cendrung melemah, pemalu, minder dan tidak percaya diri menghadapi era persaingan yang memang ketat disegala aspek kehidupan termasuk aspek beragama. Padahal salah satu kewajiban para penganut weda adalah menyampaikan ajaran itu kepada umat manusia dan mengajak orang lain untuk mendalami weda, maka jika ada yang bertanya apakah hindu itu agama misionaris? jawabanya sangat tegas ya. Seperti Srila Prabupada dimana dunia mengakui beliau adalah seorang misionaris besar yang mampu membawa ajaran weda ke Amerika, Eropa dan belahan dunia yang lain. Nah kita minimal harus berani menyampaikan filsafat-filsafat Vedanta kepada orang lain dimanapun kita berada, jangan baru melihat orang lain piawai berbicara tentang agama lalu kita merasa minder sendiri, melihat yang lain sepertinya hebat berteori lalu merasa diri kecil, dalam pertemuan-pertuman apapun maunya duduk di belakang dan seterusnya.
Oleh karena itu maka pengetahuan rohani melalui kitab-kitab weda harus diberikan kepada generasi muda kita sejak dini, itulah kewajiban semua orang sebagai bentuk tanggungjawab kita bersama. Arjuna pun menjadi sirna kesedihannya, keraguannya dan sebaliknya menjadi semangat untuk berperang melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ksatria setelah menerima pengetahuan rohani dari Krsna.
Ini satu bukti bahwa pengetahuan rohani mampu menjadikan manusia bebas dari rasa takut, bebas dari rasa sedih, bebas dari rasa ragu, bebas dari rasa iri, bebas dari rasa rendah diri, bebas dari kebodohan, dan sebaliknya menjadikan manusia kuat, cerdas dan spiritual
Padahal kewajiban itu yang paling utama jauh diatas perasaan, dan hanya dengan pengetahuan rohanilah manusia mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik. Apakah dia seorang brahmana, apakah dia ksatria, apakah dia waisya atau sudra, dengan pengetahuan rohani dia akan tulus melaksanakan kewajibannya demi sebuah pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Walau seandainya engkau paling berdosa diantara manusia yang memikul dosa dengan perahu ilmu pengetahuan ini (pengetahuan rohani) lautan dosa akan engkau seberangi demikian Tuhan Yang Maha Esa Krsna bersabda (Bhg. 4.36).
Dengan demikian maka tidak terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa ajaran weda sangatlah mendesak untuk diberikan kepada generasi muda kita agar mereka menjadi mengerti dan menyadari tugas dan kewajibannya.
Om namo bhagavate vasu deva ya
sangramam na karisyasi,
tatah sva-dharmam kirtim ca
hitva papam avapsyasi
Bhg.2.33
Akhirnya bila engkau tidak berperang sebagaimana kewajiban dengan meninggalkan kewajiban dan kehormatan, maka penderitaanlah yang engkau peroleh.
Demikian peringatan yang disabdakan Krsna kepada Arjuna dalam medan perang kurukstra, sehubungan dengan keraguan dan keengganan Arjuna untuk berperang melawan musuh-musuhnya yang notabenen adalah gurunya, kakeknya, sepupunya, kerabatnya dan sebagainya.
Sabda Krsna diatas juga mengingatkan kepada kita semua bahwa jika kewajiban ditinggalkan dengan alasan apapun maka penderitaan sudahlah pasti menguasai kita, oleh karena itu lakukanlah apapun yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab kita tanpa keraguan.
Dan kewajiban apapun yang dilakukan maka lakukanlah semata-mata demi kewajiban itu sendiri.
Berperanglah demi perang itu sendiri, bekerjalah demi kerja itu sendiri tanpa motif yang lain. Tentu semuanya harus dilandasi oleh pengabdian dan semangat bhakti yang baik kepada Tuhan yang Maha Esa. Jika demikian adanya maka semuanya menjadi baik, menjadi rohani dan yang namanya rohani sudah pasti steril dari napsu material, angkara murka, loba, tamak, serakah, sewenang-wenang dan lain-lain sifat-sifat asurik, karena apa yang disebutkan terakhir itulah penyebab utama dari kehancuran dan kemerosotan kehidupan dunia saat ini.
Dewasa ini beberapa teman merasakan semangat dan daya juang generasi muda hindu cendrung melemah, pemalu, minder dan tidak percaya diri menghadapi era persaingan yang memang ketat disegala aspek kehidupan termasuk aspek beragama. Padahal salah satu kewajiban para penganut weda adalah menyampaikan ajaran itu kepada umat manusia dan mengajak orang lain untuk mendalami weda, maka jika ada yang bertanya apakah hindu itu agama misionaris? jawabanya sangat tegas ya. Seperti Srila Prabupada dimana dunia mengakui beliau adalah seorang misionaris besar yang mampu membawa ajaran weda ke Amerika, Eropa dan belahan dunia yang lain. Nah kita minimal harus berani menyampaikan filsafat-filsafat Vedanta kepada orang lain dimanapun kita berada, jangan baru melihat orang lain piawai berbicara tentang agama lalu kita merasa minder sendiri, melihat yang lain sepertinya hebat berteori lalu merasa diri kecil, dalam pertemuan-pertuman apapun maunya duduk di belakang dan seterusnya.
Oleh karena itu maka pengetahuan rohani melalui kitab-kitab weda harus diberikan kepada generasi muda kita sejak dini, itulah kewajiban semua orang sebagai bentuk tanggungjawab kita bersama. Arjuna pun menjadi sirna kesedihannya, keraguannya dan sebaliknya menjadi semangat untuk berperang melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ksatria setelah menerima pengetahuan rohani dari Krsna.
Ini satu bukti bahwa pengetahuan rohani mampu menjadikan manusia bebas dari rasa takut, bebas dari rasa sedih, bebas dari rasa ragu, bebas dari rasa iri, bebas dari rasa rendah diri, bebas dari kebodohan, dan sebaliknya menjadikan manusia kuat, cerdas dan spiritual
Padahal kewajiban itu yang paling utama jauh diatas perasaan, dan hanya dengan pengetahuan rohanilah manusia mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik. Apakah dia seorang brahmana, apakah dia ksatria, apakah dia waisya atau sudra, dengan pengetahuan rohani dia akan tulus melaksanakan kewajibannya demi sebuah pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Walau seandainya engkau paling berdosa diantara manusia yang memikul dosa dengan perahu ilmu pengetahuan ini (pengetahuan rohani) lautan dosa akan engkau seberangi demikian Tuhan Yang Maha Esa Krsna bersabda (Bhg. 4.36).
Dengan demikian maka tidak terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa ajaran weda sangatlah mendesak untuk diberikan kepada generasi muda kita agar mereka menjadi mengerti dan menyadari tugas dan kewajibannya.
Om namo bhagavate vasu deva ya
Selasa, 17 Agustus 2010
Sujud
Sujud
Oleh: vedanta pati dasa
Namah purastad atha prsthatas te
Namo’stu te sarvata eva sarva
Ananta-viryamita-vikramas tvam
Sarvam samapnosi tato’si sarvah
Bhg. 11.40
Bersujud dihadapanMu, dibelakangMu dan dari mana-mana, wahai semuanya; Engkau tak terbatas dalam keperkasaan, tak terbandingkan dalam kekuatan, meliputi segalanya, dan karenanya Engkau adalah segalanya.
Demikianlah sifat-sifat maha yang dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa, tak terbatas dalam keperkasaan dan kekuatanNya, meliputi ruang dan waktu dan Dialah segala-galanya.
Tuhan biasa disebut dengan maha besar atau maha agung, orang lain biasa menyebut dengan akbar, padahal Tuhan juga bisa maha kecil bahkan lebih kecil daripada atom, dan banyak kalangan juga mengatakan bahwa bersujud kepada Tuhan harus dari arah tertentu sehingga jika hendak sembahyang terkadang ada kesulitan harus menghadap kemana, padahal abdi setia Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krsna yang paling dekat Arjuna mengatakan bersujud dari depan dari belakang dan dari mana-mana bisa karena memang Tuhan itu mempunyai sifat maha segalanya, tentu sangat tergantung dari situasi dan kondisi dimana kita berada, jika dalam lingkungan asram, mandir, pura dan sebagainya tentu kita menghadap ke arca atau bangunan suci atau padmasana dan sebagainya jika diluar itu masalah arah tidaklah terlalu penting.
Didalam srimad bhagavad gita maupun srimad bhagavatam banyak sekali kita temukan kata sujud atau bersujud (namah). Memang saya belum melihat dalam kamus arti luas dari kata sujud itu, tetapi yang ada dalam benak saya bersujud itu adalah satu aktifitas bhakti dalam bentuk gerakan badan posisi membungkuk bahkan mencium atau menempelkan dahi pada obyek-obyek yang dihormati dan sangat disucikan seperti halnya mencium ibu pertiwi, mencium kaki orang tua, orang-orang suci, guru-guru kerohanian, kaki padma Tuhan dalam bentuk Arca dan seterusnya.
Diluar posisi badan seperti itu barangkali kurang pas jika disebut dengan bersujud, memang ada sebagian dari teman-teman mengatakan soal posisi tidak terlalu penting, yang paling penting adalah hatinya yang bersujud walaupun posisi badan tetap berdiri tegak atau duduk. Ya itu boleh-boleh saja pendapat masing-masing orang yang juga harus dihormati.
Tetapi satu hal yang perlu disadari dan difahami bahwa tradisi bersujud itu adalah peradaban weda yang sudah ada sejak zaman purba hingga kini dan tentu masa-masa yang akan datang, dalam kitab-kitab suci banyak sekali kata namah atau namo yang artinya sujud atau bersujud kita temui, begitu juga dalam relief-relief banyak sekali kita lihat bagaimana Sri Rama bersujud kepada Dasaratha ayahandanya, kepada ibunya, kepada semua resi-resi agung yang ditemuinya, kepada para leluhur, kepada para dewa dan sebagainya. Demikian juga Sri Hanumanji sang abdi agung selalu bersujud dikaki padma Sri Rama dan Ibu Sita, hal yang sama juga merupakan kebiasaan Laksmana bahkan Laksmana sendiri tidak pernah memandang wajah Ibu Sita karena pandangannya hanya tertuju pada kaki padma Beliau.
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krsna sendiri juga demikian bersujud dikaki Nanda Maharaj dan Ibu Yasodha, dan banyak sekali kepribadian-kepribadian yang agung memberi contoh kepada kita semua yang harus kita teladani.
Lalu pertanyaanya adalah siapa itu Sri Rama? Jawabnya tentu semua tahu Beliau adalah Krsna itu sendiri yang turun ke dunia mengambil wujud manusia untuk sebuah misi menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma yang pada saat itu mulai melemah. Lalu siapa gerangan Sri Hanuman? Beliau adalah Dewa Shiva itu sendiri yang turun ber ekspansi ke alam material dari planit Beliau yang rohani di Kaliasa mengambil badan material agar dapat melakukan pengabdian suci dan melayani Tuhan dalam wujud Sri Rama dan Ibu Sita.
Lalu siapa Sri Krsna? Beliau adalah Kepribadian Tuhan yang turun ke dunia material ini dalam wujud Krsna itu sendiri untuk kembali menegakkan prinsip-prinsip dharma yang semakin merosot pada akhir dwaparayuga.
Jika demikian adanya maka kepada orang tua, kepada guru-guru kerohanian, kepada resi-resi agung, kepada orang-orang suci kepada para leluhur, kepada para Dewa dan kepada Tuhan itu sendiri salahkah jika kita bersujud kepada Beliau? Malukah jika kita bersujud kepada Beliau? Ragukah jika kita bersujud kepada Beliau? Ditertawakan orangkah jika kita bersujud kepada Beliau, dimarahkah jika kita bersujud kepada Beliau? dan seterusnya dan seterusnya.
Mari kita coba renungkan sedalam-dalamnya dengan kejernihan dan ketundukan hati, mari coba berdialog dengan sang jiwa agar kita mendapatkan jawaban yang jujur. Jika kepribadian-kepribadian yang agung seperti yang disebutkan diatas saja dengan tunduk hati bersujud kepada yang wajib Beliau sujudi lalu ada apa dengan saya? saya ini siapa, apakah saya sebanding dengan Beliau-Beliau itu? jika tidak lalu kenapa saya sulit sekali melakukannya, sulit sekali mengenyahkan kuatnya batu karang egois yang ada pada diri saya, semakin bertekuk lututnya kita menghadapi kesombongan yang ada pada diri ini dan seterusnya. Atau bersujud itu menurut kita adalah milik orang lain atau agama lain? Sehingga kita merasa pantangan dikatakan ikut-ikutan, Pertanyaan berikutnya adalah apakah mereka yang lebih dulu ada daripada hindu atau sebaliknya? Jawabnya tentu jelas hindu sudah ada jauh sebelum mereka ada. atau bersujud itu bukan budaya kita? Jawabnya tentu jelas bahwa bersujud itu adalah budaya weda.
Pertanyaan terakhir barangkali apakah kita masih ragu-ragu dengan weda atau hindu?
Nah untuk yang satu ini silakan dijawab sendiri.
Jika ingin menerapkan ajaran luhur itu secara lebih baik dalam kehidupan ini maka lakukanlah tanpa keraguan sedikitpun, jangan dihantui rasa malu apalagi takut. Terimalah ajaran itu apa adanya tanpa harus membanding-bandingkan dengan ajaran lain.
Yakinilah bahwa semuanya ada di sana dan kita tidak perlu harus mencarinya kemana-mana ditempat lain, karena itu hanya menghabis-habiskan energy saja. Melayani Tuhan, melayani guru-guru kerohanian, melaksankan aktifitas japa, terus-menerus memuji Tuhan dengan gerakan sankirtanam dan sebagainya yang diautorisasi oleh Sri Caitanya Mahaprabu kurang lebih 500 tahun yang lalu, itulah gerakan bhakti.
Sudah terbukti melalui itu hindu berkembang ke berbagai Negara dari daratan India ke Amerika, Eropa, Australia dan seterusnya.
Namun justru menjadi kontradiktif bagi kita yang belum menerima hal itu, ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya jumlah orang hindu di Bali yang hijrah ke agama lain.
Untuk itu sekali lagi mari kita semua merenungkan hal ini
Om Namo Bhagavate Vasudeva ya
Oleh: vedanta pati dasa
Namah purastad atha prsthatas te
Namo’stu te sarvata eva sarva
Ananta-viryamita-vikramas tvam
Sarvam samapnosi tato’si sarvah
Bhg. 11.40
Bersujud dihadapanMu, dibelakangMu dan dari mana-mana, wahai semuanya; Engkau tak terbatas dalam keperkasaan, tak terbandingkan dalam kekuatan, meliputi segalanya, dan karenanya Engkau adalah segalanya.
Demikianlah sifat-sifat maha yang dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa, tak terbatas dalam keperkasaan dan kekuatanNya, meliputi ruang dan waktu dan Dialah segala-galanya.
Tuhan biasa disebut dengan maha besar atau maha agung, orang lain biasa menyebut dengan akbar, padahal Tuhan juga bisa maha kecil bahkan lebih kecil daripada atom, dan banyak kalangan juga mengatakan bahwa bersujud kepada Tuhan harus dari arah tertentu sehingga jika hendak sembahyang terkadang ada kesulitan harus menghadap kemana, padahal abdi setia Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krsna yang paling dekat Arjuna mengatakan bersujud dari depan dari belakang dan dari mana-mana bisa karena memang Tuhan itu mempunyai sifat maha segalanya, tentu sangat tergantung dari situasi dan kondisi dimana kita berada, jika dalam lingkungan asram, mandir, pura dan sebagainya tentu kita menghadap ke arca atau bangunan suci atau padmasana dan sebagainya jika diluar itu masalah arah tidaklah terlalu penting.
Didalam srimad bhagavad gita maupun srimad bhagavatam banyak sekali kita temukan kata sujud atau bersujud (namah). Memang saya belum melihat dalam kamus arti luas dari kata sujud itu, tetapi yang ada dalam benak saya bersujud itu adalah satu aktifitas bhakti dalam bentuk gerakan badan posisi membungkuk bahkan mencium atau menempelkan dahi pada obyek-obyek yang dihormati dan sangat disucikan seperti halnya mencium ibu pertiwi, mencium kaki orang tua, orang-orang suci, guru-guru kerohanian, kaki padma Tuhan dalam bentuk Arca dan seterusnya.
Diluar posisi badan seperti itu barangkali kurang pas jika disebut dengan bersujud, memang ada sebagian dari teman-teman mengatakan soal posisi tidak terlalu penting, yang paling penting adalah hatinya yang bersujud walaupun posisi badan tetap berdiri tegak atau duduk. Ya itu boleh-boleh saja pendapat masing-masing orang yang juga harus dihormati.
Tetapi satu hal yang perlu disadari dan difahami bahwa tradisi bersujud itu adalah peradaban weda yang sudah ada sejak zaman purba hingga kini dan tentu masa-masa yang akan datang, dalam kitab-kitab suci banyak sekali kata namah atau namo yang artinya sujud atau bersujud kita temui, begitu juga dalam relief-relief banyak sekali kita lihat bagaimana Sri Rama bersujud kepada Dasaratha ayahandanya, kepada ibunya, kepada semua resi-resi agung yang ditemuinya, kepada para leluhur, kepada para dewa dan sebagainya. Demikian juga Sri Hanumanji sang abdi agung selalu bersujud dikaki padma Sri Rama dan Ibu Sita, hal yang sama juga merupakan kebiasaan Laksmana bahkan Laksmana sendiri tidak pernah memandang wajah Ibu Sita karena pandangannya hanya tertuju pada kaki padma Beliau.
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krsna sendiri juga demikian bersujud dikaki Nanda Maharaj dan Ibu Yasodha, dan banyak sekali kepribadian-kepribadian yang agung memberi contoh kepada kita semua yang harus kita teladani.
Lalu pertanyaanya adalah siapa itu Sri Rama? Jawabnya tentu semua tahu Beliau adalah Krsna itu sendiri yang turun ke dunia mengambil wujud manusia untuk sebuah misi menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma yang pada saat itu mulai melemah. Lalu siapa gerangan Sri Hanuman? Beliau adalah Dewa Shiva itu sendiri yang turun ber ekspansi ke alam material dari planit Beliau yang rohani di Kaliasa mengambil badan material agar dapat melakukan pengabdian suci dan melayani Tuhan dalam wujud Sri Rama dan Ibu Sita.
Lalu siapa Sri Krsna? Beliau adalah Kepribadian Tuhan yang turun ke dunia material ini dalam wujud Krsna itu sendiri untuk kembali menegakkan prinsip-prinsip dharma yang semakin merosot pada akhir dwaparayuga.
Jika demikian adanya maka kepada orang tua, kepada guru-guru kerohanian, kepada resi-resi agung, kepada orang-orang suci kepada para leluhur, kepada para Dewa dan kepada Tuhan itu sendiri salahkah jika kita bersujud kepada Beliau? Malukah jika kita bersujud kepada Beliau? Ragukah jika kita bersujud kepada Beliau? Ditertawakan orangkah jika kita bersujud kepada Beliau, dimarahkah jika kita bersujud kepada Beliau? dan seterusnya dan seterusnya.
Mari kita coba renungkan sedalam-dalamnya dengan kejernihan dan ketundukan hati, mari coba berdialog dengan sang jiwa agar kita mendapatkan jawaban yang jujur. Jika kepribadian-kepribadian yang agung seperti yang disebutkan diatas saja dengan tunduk hati bersujud kepada yang wajib Beliau sujudi lalu ada apa dengan saya? saya ini siapa, apakah saya sebanding dengan Beliau-Beliau itu? jika tidak lalu kenapa saya sulit sekali melakukannya, sulit sekali mengenyahkan kuatnya batu karang egois yang ada pada diri saya, semakin bertekuk lututnya kita menghadapi kesombongan yang ada pada diri ini dan seterusnya. Atau bersujud itu menurut kita adalah milik orang lain atau agama lain? Sehingga kita merasa pantangan dikatakan ikut-ikutan, Pertanyaan berikutnya adalah apakah mereka yang lebih dulu ada daripada hindu atau sebaliknya? Jawabnya tentu jelas hindu sudah ada jauh sebelum mereka ada. atau bersujud itu bukan budaya kita? Jawabnya tentu jelas bahwa bersujud itu adalah budaya weda.
Pertanyaan terakhir barangkali apakah kita masih ragu-ragu dengan weda atau hindu?
Nah untuk yang satu ini silakan dijawab sendiri.
Jika ingin menerapkan ajaran luhur itu secara lebih baik dalam kehidupan ini maka lakukanlah tanpa keraguan sedikitpun, jangan dihantui rasa malu apalagi takut. Terimalah ajaran itu apa adanya tanpa harus membanding-bandingkan dengan ajaran lain.
Yakinilah bahwa semuanya ada di sana dan kita tidak perlu harus mencarinya kemana-mana ditempat lain, karena itu hanya menghabis-habiskan energy saja. Melayani Tuhan, melayani guru-guru kerohanian, melaksankan aktifitas japa, terus-menerus memuji Tuhan dengan gerakan sankirtanam dan sebagainya yang diautorisasi oleh Sri Caitanya Mahaprabu kurang lebih 500 tahun yang lalu, itulah gerakan bhakti.
Sudah terbukti melalui itu hindu berkembang ke berbagai Negara dari daratan India ke Amerika, Eropa, Australia dan seterusnya.
Namun justru menjadi kontradiktif bagi kita yang belum menerima hal itu, ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya jumlah orang hindu di Bali yang hijrah ke agama lain.
Untuk itu sekali lagi mari kita semua merenungkan hal ini
Om Namo Bhagavate Vasudeva ya
Kamis, 05 Agustus 2010
Keseimbangan Jiwa
Oleh: vedanta pati dasa
sama-duhkha-sukhah sva-sthah
sama-lostasma-kancanah
tulya-priyapriyo dhiras
tulya-nindatma-samstutih
Bhg. 14.24
Dia yang seimbang terhadap suka maupun duka, percaya pada diri sendiri, melihat sama terhadap segumpal batu maupun emas, sama terhadap yang dicintai dan yang tidak dicintai, teguh pada pendirian, baik pada cacian maupun pujian.
Tingkatan kualifikasi seperti itu sulit sekali dijumpai pada kehidupan manusia masa kini, tetapi hal itu juga bukanlah sesuatu yang mustahil ada pada era kaliyuga ini. Tokoh besar bangsa India Mahatma Gandi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya masih sempat mengucapkan kata-kata bijaknya memaafkan orang yang telah menembaknya hingga menemui ajalnya.
Walaupun pemerintah China menganggap tokoh spiritual Tibet Dalai Lama sebagai srigala berjubah bhiksu namun pemimpin budha itu tetap mengatakan bahwa dia menerima pemerintah Beijing dan hanya mencari otonomi berarti bagi Tibet.
Kedua contoh diatas membuktikan bahwa dua kepribadian mulia itu mampu merespon kebencian yang ditujukan kepadanya dengan kebaikan. Memandang semuanya dengan kacamata yang sama yaitu cinta, dan keduanya adalah para peraih predikat diri sebagai jiwa-jiwa yang agung atau mahatma.
Mereka mampu memandang sama terhadapa dua yang berbeda (rwa bhineda) terhadap suka maupun duka, anugrah dan bencana, hidup dan mati, siang dan malam dan seterusnya.
Hal ini bisa terjadi karena ada seberkas kekuatan yang teramat sangat dasyat yaitu keyakinan, kesadaran dan kebenaran. Jika dalam sejarah wangsa Bharata ada ksatria perkasa Arjuna mampu membunuh kakek kesayangannya Bhisma dalam perang maha dasyat di medan Kuruksetra tanpa dendam dan benci, tentu juga karena kekuatan terakhir itu.
Yudistira setelah dinobatkan sebagai raja Hastina Pura mampu menempatkan orang-orang yang sebelumnya telah berusaha menghancurkannya pada posisi terhormat.
Di Bali akhir-akhir ini diramaikan dengan berita tentang kegagalan panen padi akibat dari serangan hama tikus, dan lebih mencengangkan lagi semakin tikus-tikus itu diperangi (dibunuh) seranganya itu justru semakin mengganas seperti ada perlawanan. Mengusir tikus tanpa harus membunuhnya memang pekerjaan yang tidak gampang tetapi juga pekerjaan yang barangkali tidak mustahil untuk bisa dilakukan. Jika dengan kekuatan cinta seperti doa-doa melalui ritual sederhana tetapi satvik seperti homa yagya dan sebagainya, disertai dengan upaya-upaya lain seperti memagari tanaman dengan unsure-unsur yang tidak memungkinkan hama itu melakukan gangguan dan sebagainya, namun serangan itu tetap tidak bisa diatasi maka kembalikan ke sloka diawal tidak bersedih hati yang berlebihan dikala mendapatkan bencana, dan tidak bersenang hati yang berlebihan dikala mendapatkan keberuntungan, semua diserahkan kepada sang sutradara kehidupan yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Cara penyerahan itu dalam bentuk syukur apapun yang terjadi atas diri ini dan dunia ini adalah semata-mata atas kehendakNya, namun tetap disertai dengan upaya-upaya kerja, kerja dan terus berkarya karena hanya itu kewajiban kita dan bukan pada hasilnya. Jika kualifikasi seperti itu yang menyelimuti diri ini tentu sudah ada arah untuk mendekat ke sabda Krsna diawal.
Intinya jangan pernah lelah untuk menyayangi siapapun termasuk kepada semua mahluk lain walaupun dimata kita dia pernah membuat kekeliruan tetapi dimata Tuhan belum tentu demikian karena baik pengelihatan, pengamatan dan pengetahuan kita sangat terbatas.
Demikian juga jika bencana menimpa seperti kebanjiran, kebakaran, kecelakaan dan sebagainya hendaknya jangan larut dalam kesedihan, karena kita tidak pernah tahu tentang rencana Tuhan itu seperti apa. Yang harus dilakukan adalah berusaha untuk mampu memahami dan mengambil hikmah dibalik kejadian itu, jika kita mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian maka kita pasti akan menjadi kuat dan jika kita kuat dalam menghadapi setiap kejadian maka hidup ini terasa lebih bermakna.
Bisa saja Tuhan mengurangi sebagian dari harta yang kita miliki walau sesungguhnya itu bukanlah milik kita dengan cara Beliau untuk mengurangi kemelekatan kita kepada material itu agar kita menjadi ingat dan selalu ingat kepada Beliau.
Pengalaman Ibu Kunti yang suci ketika putra-putra beliau masih kecil-kecil suami beliau Pandu yang menjadi tumpuan hidup keluarga diambil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, maka Ibu Kunti praktis merawat dan membesarkan kelima putranya dengan penderitaan, namun ibu Kunti tidak pernah putusasa, beliau menjalani kehidupanya bersama kelima putranya dengan cinta dan kasih sayang, bersahaja selalu mohon tuntunan dan kekuatan kepada Vasudeva Krsna, bahkan beliau memohon kepada Krsna oh Vasudeva berikanlah selalu kami penderitaan dalam mengarungi kehidupan ini agar kami selalu dapat mengingatMu, karena dengan selalu mengingatMu maka semuanya tentu menjadi baik.
Ini artinya jika kita dalam menjalani hidup dan kehidupan ini selalu bersama Tuhan, maka semuanya akan menjadi baik dan mudah.
Apapun yang terjadi pada masa kini tentu tidak pernah lepas dari apa yang terjadi pada masa yang lalu, dan juga apapun yang terjadi pada masa yang akan datang tidak bisa dilepaskan dari apa yang terjadi pada masa kini, karena itu merupakan lingkaran karma yang tidak bisa dihindari oleh siapapun termasuk para dewa, disinilah pentingnya sebuah kesadaran.
Jika kesadaran itu sudah bertumbuh dengan baik maka disana pasti ada kecerdasan rohani dalam menyikapi kehidupan ini dimana semua yang bersifat material itu adalah sementara saja alias tidak kekal, dan tidak akan ada penyesalan dengan apapun yang terjadi yang berhubungan dengan hal-hal material itu, apakah dia gagal panen, ataukah dia panen raya, apakah dia mengalami bencana, apakah naik jabatan ataukah dia di phk, apakah mendapatkan keuntungan besar dalam berbisnis atau sebaliknya mengalami kerugian dan sebagainya semuanya dihadapi dengan tenang dan keseimbangan jiwa.
Dan dengan kesadaran itu juga justru akan menumbuh-kembangkan upaya-upaya untuk melakukan pembenahan dan peningkatan kualitas diri menuju kesadaran Tuhan, karena tujuan akhir dari hidup ini adalah untuk mencapai Tuhan.
Biarkan hidup berjalan apa adanya mengalir bagaikan aliran sungai jalanilah bersama Tuhan karena jika hidup ini kita jalani bersama Tuhan maka apapun yang terjadi dan apapun yang menghadang didepan kita itu adalah rencana Tuhan semata-mata dan kita pasti dapat melewatinya dengan baik.
Om Namo Bhagavate Vasudeva ya
Oleh: vedanta pati dasa
sama-duhkha-sukhah sva-sthah
sama-lostasma-kancanah
tulya-priyapriyo dhiras
tulya-nindatma-samstutih
Bhg. 14.24
Dia yang seimbang terhadap suka maupun duka, percaya pada diri sendiri, melihat sama terhadap segumpal batu maupun emas, sama terhadap yang dicintai dan yang tidak dicintai, teguh pada pendirian, baik pada cacian maupun pujian.
Tingkatan kualifikasi seperti itu sulit sekali dijumpai pada kehidupan manusia masa kini, tetapi hal itu juga bukanlah sesuatu yang mustahil ada pada era kaliyuga ini. Tokoh besar bangsa India Mahatma Gandi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya masih sempat mengucapkan kata-kata bijaknya memaafkan orang yang telah menembaknya hingga menemui ajalnya.
Walaupun pemerintah China menganggap tokoh spiritual Tibet Dalai Lama sebagai srigala berjubah bhiksu namun pemimpin budha itu tetap mengatakan bahwa dia menerima pemerintah Beijing dan hanya mencari otonomi berarti bagi Tibet.
Kedua contoh diatas membuktikan bahwa dua kepribadian mulia itu mampu merespon kebencian yang ditujukan kepadanya dengan kebaikan. Memandang semuanya dengan kacamata yang sama yaitu cinta, dan keduanya adalah para peraih predikat diri sebagai jiwa-jiwa yang agung atau mahatma.
Mereka mampu memandang sama terhadapa dua yang berbeda (rwa bhineda) terhadap suka maupun duka, anugrah dan bencana, hidup dan mati, siang dan malam dan seterusnya.
Hal ini bisa terjadi karena ada seberkas kekuatan yang teramat sangat dasyat yaitu keyakinan, kesadaran dan kebenaran. Jika dalam sejarah wangsa Bharata ada ksatria perkasa Arjuna mampu membunuh kakek kesayangannya Bhisma dalam perang maha dasyat di medan Kuruksetra tanpa dendam dan benci, tentu juga karena kekuatan terakhir itu.
Yudistira setelah dinobatkan sebagai raja Hastina Pura mampu menempatkan orang-orang yang sebelumnya telah berusaha menghancurkannya pada posisi terhormat.
Di Bali akhir-akhir ini diramaikan dengan berita tentang kegagalan panen padi akibat dari serangan hama tikus, dan lebih mencengangkan lagi semakin tikus-tikus itu diperangi (dibunuh) seranganya itu justru semakin mengganas seperti ada perlawanan. Mengusir tikus tanpa harus membunuhnya memang pekerjaan yang tidak gampang tetapi juga pekerjaan yang barangkali tidak mustahil untuk bisa dilakukan. Jika dengan kekuatan cinta seperti doa-doa melalui ritual sederhana tetapi satvik seperti homa yagya dan sebagainya, disertai dengan upaya-upaya lain seperti memagari tanaman dengan unsure-unsur yang tidak memungkinkan hama itu melakukan gangguan dan sebagainya, namun serangan itu tetap tidak bisa diatasi maka kembalikan ke sloka diawal tidak bersedih hati yang berlebihan dikala mendapatkan bencana, dan tidak bersenang hati yang berlebihan dikala mendapatkan keberuntungan, semua diserahkan kepada sang sutradara kehidupan yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Cara penyerahan itu dalam bentuk syukur apapun yang terjadi atas diri ini dan dunia ini adalah semata-mata atas kehendakNya, namun tetap disertai dengan upaya-upaya kerja, kerja dan terus berkarya karena hanya itu kewajiban kita dan bukan pada hasilnya. Jika kualifikasi seperti itu yang menyelimuti diri ini tentu sudah ada arah untuk mendekat ke sabda Krsna diawal.
Intinya jangan pernah lelah untuk menyayangi siapapun termasuk kepada semua mahluk lain walaupun dimata kita dia pernah membuat kekeliruan tetapi dimata Tuhan belum tentu demikian karena baik pengelihatan, pengamatan dan pengetahuan kita sangat terbatas.
Demikian juga jika bencana menimpa seperti kebanjiran, kebakaran, kecelakaan dan sebagainya hendaknya jangan larut dalam kesedihan, karena kita tidak pernah tahu tentang rencana Tuhan itu seperti apa. Yang harus dilakukan adalah berusaha untuk mampu memahami dan mengambil hikmah dibalik kejadian itu, jika kita mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian maka kita pasti akan menjadi kuat dan jika kita kuat dalam menghadapi setiap kejadian maka hidup ini terasa lebih bermakna.
Bisa saja Tuhan mengurangi sebagian dari harta yang kita miliki walau sesungguhnya itu bukanlah milik kita dengan cara Beliau untuk mengurangi kemelekatan kita kepada material itu agar kita menjadi ingat dan selalu ingat kepada Beliau.
Pengalaman Ibu Kunti yang suci ketika putra-putra beliau masih kecil-kecil suami beliau Pandu yang menjadi tumpuan hidup keluarga diambil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, maka Ibu Kunti praktis merawat dan membesarkan kelima putranya dengan penderitaan, namun ibu Kunti tidak pernah putusasa, beliau menjalani kehidupanya bersama kelima putranya dengan cinta dan kasih sayang, bersahaja selalu mohon tuntunan dan kekuatan kepada Vasudeva Krsna, bahkan beliau memohon kepada Krsna oh Vasudeva berikanlah selalu kami penderitaan dalam mengarungi kehidupan ini agar kami selalu dapat mengingatMu, karena dengan selalu mengingatMu maka semuanya tentu menjadi baik.
Ini artinya jika kita dalam menjalani hidup dan kehidupan ini selalu bersama Tuhan, maka semuanya akan menjadi baik dan mudah.
Apapun yang terjadi pada masa kini tentu tidak pernah lepas dari apa yang terjadi pada masa yang lalu, dan juga apapun yang terjadi pada masa yang akan datang tidak bisa dilepaskan dari apa yang terjadi pada masa kini, karena itu merupakan lingkaran karma yang tidak bisa dihindari oleh siapapun termasuk para dewa, disinilah pentingnya sebuah kesadaran.
Jika kesadaran itu sudah bertumbuh dengan baik maka disana pasti ada kecerdasan rohani dalam menyikapi kehidupan ini dimana semua yang bersifat material itu adalah sementara saja alias tidak kekal, dan tidak akan ada penyesalan dengan apapun yang terjadi yang berhubungan dengan hal-hal material itu, apakah dia gagal panen, ataukah dia panen raya, apakah dia mengalami bencana, apakah naik jabatan ataukah dia di phk, apakah mendapatkan keuntungan besar dalam berbisnis atau sebaliknya mengalami kerugian dan sebagainya semuanya dihadapi dengan tenang dan keseimbangan jiwa.
Dan dengan kesadaran itu juga justru akan menumbuh-kembangkan upaya-upaya untuk melakukan pembenahan dan peningkatan kualitas diri menuju kesadaran Tuhan, karena tujuan akhir dari hidup ini adalah untuk mencapai Tuhan.
Biarkan hidup berjalan apa adanya mengalir bagaikan aliran sungai jalanilah bersama Tuhan karena jika hidup ini kita jalani bersama Tuhan maka apapun yang terjadi dan apapun yang menghadang didepan kita itu adalah rencana Tuhan semata-mata dan kita pasti dapat melewatinya dengan baik.
Om Namo Bhagavate Vasudeva ya
Sabtu, 31 Juli 2010
TUHAN ADALAH SAKSI SEGALA SESUATU
Skanda 8 bab 6 Text 14
TUHAN ADALAH SAKSI SEGALA SESUATU
Temanku, kami para dewa pemimpin alam semesta ini,datang di kaki padma anda.Mohon mencari tujuan,dengan mana anda adalah saksi segala sesuatu, dari dalam maupun dari luar, tidak ada sesuatu apapun yang anda tidak ketahui, dengan demikian tidak penting menyampaikan apapun kepada beliau.
Dalam Bhagavad Gita dijelaskan bahwa roh individual adalah pengendali badan individu,namun kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pengendali badan ini.Beliau mengetahui apa yang kita perlukan karena beliau adalah saksi dari setiap badan dengan demikian tidak ada sesuatu apapun yang tidak beliau ketahui, beliau mengetahui apa yang kita perlukan,dengan demikian kewajiban kita melakukan pelayanan bhakti dengan tulus hati, di bawah bimbingan guru kerohanian.Atas karunia beliau,Sri Krishna akan mensuplai apapun yang kita perlukan dalam melaksanakan pelayanan bhakti itu.
TUHAN ADALAH SAKSI SEGALA SESUATU
Temanku, kami para dewa pemimpin alam semesta ini,datang di kaki padma anda.Mohon mencari tujuan,dengan mana anda adalah saksi segala sesuatu, dari dalam maupun dari luar, tidak ada sesuatu apapun yang anda tidak ketahui, dengan demikian tidak penting menyampaikan apapun kepada beliau.
Dalam Bhagavad Gita dijelaskan bahwa roh individual adalah pengendali badan individu,namun kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pengendali badan ini.Beliau mengetahui apa yang kita perlukan karena beliau adalah saksi dari setiap badan dengan demikian tidak ada sesuatu apapun yang tidak beliau ketahui, beliau mengetahui apa yang kita perlukan,dengan demikian kewajiban kita melakukan pelayanan bhakti dengan tulus hati, di bawah bimbingan guru kerohanian.Atas karunia beliau,Sri Krishna akan mensuplai apapun yang kita perlukan dalam melaksanakan pelayanan bhakti itu.
Langganan:
Postingan (Atom)